Thursday, November 17, 2011

Lola and The Boy Next Door by Stephanie Perkis

Lola and the Boy Next Door My rating: 5of 5 stars


Where do i begin.. to tell a story of how great a love can be... lalalalala..lalalalala...MySpace

Ahhhh... masih melayang rasanya sehabis membaca Lola dan Cricket. I loooooove Cricket!!!!

Cricket yang cute, Cricket yang sabar, Cricket yang pemalu, Cricket yang nerd, Cricket yang rambutnya suka melawan gravitasi, Cricket yang menciptakan benda2 kecil buat Lola, Cricket yang ga tahan jauh2 dari Lola, Cricket yang walaupun sedang marah ke Lola tapi tetap datang lagi dan lagi  untuk menemui Lola, Cricket..yang..yang... ahhh... suka segalanya tentang Cricket!MySpace

Lola Nolan dan Cricket Bell sudah bertetangga sejak kecil. Bersama dengan Calliope, kembaran Cricket, mereka bertiga sering bermain bersama. Tapi persahabatan tersebut putus pada saat usia Lola 5 tahun dan Cricket dan Calliope 6 tahun. Alasannya sederhana saja. Cemburu.. (halah.. padahal masih anak-anak tuh)

Waktu itu Calliope membantu Lola membuat rumah boneka dikamarnya, sedangkan Cricket membuatkan elevator untuk rumah boneka tersebut. Saking senangnya Lola mencium Cricket, tapi Calliope yang marah langsung menyeret Cricket pulang. Dan sejak saat itu mereka tidak berteman lagi.

Keluarga Cricket, yang keturunan Alexander Graham Bell, sering pindah. Hal ini disebabkan karena Calliope yang berbakat dalam olahraga skating sering bertukar-tukar pelatih sehingga mereka sering pindah sesuai dengan kota tempat tinggal pelatih terbaru Calliope. Tapi setiap beberapa tahun mereka akan kembali ke sebelah rumah Lola.

Pada saat Lola 15 tahun, Cricket kembali menghuni rumah sebelah. Dan karena jendela kamar mereka saling berhadapan dan hanya berjarak beberapa kaki, mereka bisa saling mengobrol. Hubungan mereka kemudian makin berkembang, tetapi pernyataan cinta itu tetap tidak terucapkan. Lola sangat yakin kalau Cricket menyukainya. Dan kemudian Cricket kembali pindah kota. Tetap tanpa ada kata yang terucap.

Lola yang terluka butuh waktu lama untuk menata hatinya lagi. Pada usia 17 tahun ia bertemu dengan Max, vokalis rock band. Tapi perbedaan usia (Max 22 tahun) menyebabkan hubungan mereka ditentang oleh kedua ayah Lola (Lola dibesarkan oleh pasangan gay).

Lola yakin banget kalo Max adalah “the one” yang dicari-carinya. Tapi ada sedikit yang mengganjal bagi Lola dalam hubungan mereka. Max tidak mau bergaul dengan teman2 Lola karena menganggap mereka kekanak-kanakan. Bahkan Max tidak bisa bersikap sopan pada Lindsey, sahabat Lola. Lolapun juga tidak begitu bisa bergaul dengan teman-teman Max.

Saat berusaha mencari cara agar hubungan mereka direstui oleh orangtuanya, Cricket kembali pulang. Kali ini Cricket sudah siap menyatakan cintanya. Tapi apa daya, Lola sudah memiliki cowok lain. Maka Cricket harus puas hanya menjadi teman bagi Lola.

Tapi hal itu tidak cukup bagi mereka berdua. Apalagi Max yang sudah muak berurusan dengan orangtua Lola memutuskan untuk memulai tour dengan grup bandnya dan hubungan mereka mulai meregang. Lola harus memutuskan siapakah sebenarnya yang “the one” bagi dirinya.. 

Hmmm... Lola dengan segala kostumnya memang sedikit berbeda dengan gadis-gadis lain dilingkungannya. Apalagi dibesarkan oleh orangtua gay  (ini pertamakalinya saya baca yang seperti ini). Untung mereka tidak bersikap mesra berlebihan dalam buku ini. Paling banter Cuma manggil honey doang. Kalo ga bisa hilang selera baca...
Tapi itu tidak membuat Lola rendah diri. Bahkan dengan bangga hati ia mengakui bahwa ia masih sering memeluk orangtuanya didepan umum. Setiap hari ia memakai kostum ke sekolah, lengkap dengan wig/tatanan rambutnya. Banyak ditertawakan dan disindir oleh teman2nya. Tapi Lola tetap cuek. Impiannya adalah menjadi desaigner untuk kostum film.
Jujur saja, tidak banyak orang yang bisa seperti ini. Berani mengekspresikan dirinya tanpa takut melawan arus. Bahkan Lola bersedia untuk bekerja part-time agar bisa membiayai hobinya ini.
Perang batin saat Lola yang sadar kalau ia tidak pernah  berhenti mencintai Cricket juga sangat menyentuh. Walaupun tidak ada adegan yang bikin airmata mengalir, tapi kesedihan Lola tetap kental terasa.
Cerita sederhana yang dirangkai dengan kata-kata sederhana pula, tapi mampu membuat para pembacanya mendesah puas. Tidak banyak pengarang yang mampu menghasilkan tulisan seperti ini..




No comments:

Post a Comment